Program Terpadu Hulu–Hilir · Ridge-to-Reef

Satu Daerah Aliran Sungai. Satu Masa Depan

Dari Jantung Borneo, Melalui Geopark Karst Sangkulirang–Mangkalihat, Menuju Segitiga Karang Dunia Menjaga Sungai, Mengamankan Air Bersih, Melestarikan Kehidupan

“Setiap tetes air memiliki perjalanan panjang. Ia lahir di pegunungan dan hutan, mengalir melalui sungai, menghidupi masyarakat, lalu bermuara ke laut. Perjalanan itulah yang menghubungkan alam dan manusia dalam satu siklus kehidupan.”

Hulu terlindungiDaerah tangkapan air dijaga untuk keberlanjutan.
Air baku terjagaSumber air baku berkualitas bagi kehidupan.
Pesisir tangguhEkosistem pesisir sehat dan lebih adaptif.
Gulir untuk menjelajah
185.000+ jiwa

bergantung pada layanan yang sumber air bakunya terhubung dengan DAS Berau–Kelai

±30 juta ton batu bara & CPO

masing-masing disebut melintasi koridor sungai setiap tahun dalam naskah konsep awal

1 koridor air ridge-to-reef

menghubungkan hutan, sungai, sistem air minum, mangrove, dan terumbu karang

Hulu–Hilir satu tata kelola

mengintegrasikan perlindungan sumber air dan kesinambungan pelayanan

Mengapa Ini Penting

Ketahanan layanan air dimulai sebelum air mencapai intake.

Air baku Perumda merupakan bagian dari satu perjalanan ekologis yang panjang. Gangguan di kawasan hulu, perubahan debit sungai, banjir, kekeringan, sedimentasi, dan tekanan aktivitas di koridor sungai dapat memengaruhi mutu air baku, biaya pengolahan, serta kontinuitas layanan.

Risiko sumber air

Kekeringan & Penurunan Debit

Perubahan pola hujan dapat menurunkan ketersediaan air baku dan memperbesar risiko gangguan produksi.

Risiko operasi

Banjir & Kekeruhan Tinggi

Hujan ekstrem dan erosi meningkatkan sedimen, membebani proses pengolahan, serta dapat mengganggu operasi intake dan IPA.

Risiko tata kelola

Tekanan Ekosistem Hulu–Hilir

Tata kelola DAS dan pesisir yang berjalan terpisah dapat memutus hubungan antara perlindungan sumber air dan pemulihan ekosistem hilir.

Aliran Air Terpadu

Dari Heart of Borneo hingga Coral Triangle.

Ikuti sepuluh tahap perjalanan air: Heart of Borneo, kawasan karst, sungai utama, sistem air minum Perumda, rumah masyarakat, mangrove, Kepulauan Derawan, hingga Coral Triangle.

01

01 · Sumber Lanskap

Heart of Borneo

Hulu · Penyangga Ketersediaan Air

Perjalanan air dimulai dari bentang alam hulu yang menjaga tutupan hutan, kawasan resapan, mata air, dan aliran permukaan sebelum memasuki sistem sungai.

Risiko iklim

Perubahan tutupan lahan, kebakaran, erosi, perubahan pola hujan, dan menurunnya kemampuan lanskap menyimpan air.

Respons program

Perlindungan daerah tangkapan air, pemantauan tutupan lahan, rehabilitasi area prioritas, dan kolaborasi dengan masyarakat penjaga hulu.

02

02 · Kawasan Karst

Pegunungan Karst Sangkulirang–Mangkalihat

Karst · Sistem Resapan Alami

Kawasan karst ditempatkan sebagai mata rantai penting dalam narasi aliran air, memperlihatkan hubungan antara bentang batuan, resapan, mata air, dan aliran menuju daerah sungai.

Risiko iklim

Kerusakan tutupan lahan, gangguan kawasan resapan, erosi, sedimentasi, dan perubahan kualitas maupun kontinuitas aliran.

Respons program

Perlindungan zona resapan, pemetaan kerentanan, pemantauan mata air, pengendalian aktivitas berisiko, dan edukasi konservasi.

03

03 · Sungai Hulu

Sungai Segah & Sungai Kelay

Tributary · Koridor Air dari Hulu

Aliran dari berbagai kawasan hulu dihimpun melalui Sungai Segah dan Sungai Kelay sebagai koridor utama yang membawa air, sedimen, dan pengaruh aktivitas di sepanjang DAS.

Risiko iklim

Fluktuasi debit, banjir, kekeringan, kekeruhan tinggi, pencemaran, dan sedimentasi.

Respons program

Pemantauan kualitas dan debit, pengendalian sumber pencemar, penguatan peringatan dini, serta koordinasi pengelolaan DAS.

04

04 · Sungai Utama

Sungai Berau

Main River · Penghubung Hulu dan Hilir

Sungai Berau menjadi penghubung aliran menuju kawasan perkotaan, sistem air minum, muara, dan pesisir dalam satu kesatuan ridge-to-reef.

Risiko iklim

Kekeruhan ekstrem, perubahan debit, pencemaran, sedimentasi, banjir, dan gangguan kualitas air baku.

Respons program

Pemantauan terpadu, pengendalian beban pencemar, tata kelola lintas sektor, dan protokol komunikasi kondisi sungai.

05

05 · Pengambilan Air Baku

Intake Perumda

Intake · Titik Masuk Sistem Air Minum

Air baku memasuki sistem Perumda melalui intake untuk dipompa menuju instalasi pengolahan sesuai kapasitas dan kondisi operasional.

Risiko iklim

Sampah dan sedimen, perubahan muka air, lonjakan kekeruhan, gangguan pompa, listrik, dan akses operasi.

Respons program

Pemeliharaan intake, redundansi pompa dan daya, pemantauan muka air, pembersihan rutin, serta SOP keadaan darurat.

06

06 · Pengolahan Air

Instalasi Pengolahan Air

Treatment · Dari Air Baku Menjadi Air Bersih

Di instalasi pengolahan, air baku diproses dan dikendalikan mutunya sebelum dialirkan ke reservoir dan jaringan distribusi.

Risiko iklim

Kekeruhan tinggi, perubahan kebutuhan bahan kimia, keterbatasan kapasitas, gangguan listrik, dan kegagalan peralatan.

Respons program

Kontrol proses dan mutu, cadangan bahan kimia, pemeliharaan peralatan, monitoring real-time, dan rencana kontinuitas operasi.

07

07 · Pelayanan Air Minum

Rumah Masyarakat

Service · Air Bersih Sampai ke Pelanggan

Air bersih didistribusikan melalui jaringan hingga sambungan rumah agar masyarakat memperoleh pelayanan yang aman, andal, dan berkelanjutan.

Risiko iklim

Tekanan rendah, kebocoran, kerusakan pipa, gangguan listrik, lonjakan kebutuhan, dan ketimpangan kontinuitas.

Respons program

Pengendalian NRW dan DMA, pemantauan tekanan, perbaikan cepat, pasokan alternatif, komunikasi gangguan, dan prioritas kelompok rentan.

08

08 · Ekosistem Muara

Mangrove

Delta · Penyangga Alami Pesisir

Setelah melewati kawasan sungai dan permukiman, aliran menuju muara berinteraksi dengan ekosistem mangrove yang berfungsi sebagai penyangga ekologis.

Risiko iklim

Abrasi, hilangnya tutupan mangrove, sedimentasi, pencemaran, perubahan salinitas, dan kenaikan muka air laut.

Respons program

Restorasi mangrove, pemantauan berbasis komunitas, pengendalian sampah dan sedimen, serta penguatan karbon biru.

09

09 · Kepulauan Pesisir

Kepulauan Derawan

Islands · Ruang Hidup Pesisir

Aliran dari daratan berakhir di perairan kepulauan, tempat kualitas air, sedimen, aktivitas pesisir, dan kesehatan ekosistem saling berhubungan.

Risiko iklim

Sedimentasi, sampah laut, pemanasan perairan, tekanan wisata, kerusakan habitat, dan perubahan kualitas perairan.

Respons program

Pengelolaan pesisir terpadu, pengendalian sampah, pemantauan kualitas perairan, edukasi pengunjung, dan kolaborasi masyarakat pulau.

10

10 · Ekosistem Laut

Coral Triangle

Reef · Tujuan Akhir Ridge-to-Reef

Coral Triangle menjadi tahap akhir narasi aliran, menegaskan bahwa pengelolaan hulu, sungai, layanan air minum, muara, dan pesisir berkontribusi pada kesehatan ekosistem laut.

Risiko iklim

Pemanasan laut, pemutihan karang, sedimentasi, pencemaran, kerusakan habitat, dan tekanan pemanfaatan.

Respons program

Konservasi terumbu karang, pemantauan dampak dari daratan, pengelolaan kawasan, edukasi publik, dan pembiayaan kolaboratif.

Pendekatan Program

Enam pilar yang bekerja sebagai satu kesatuan.

Tata Kelola

Forum DAS Multi-Pihak

Platform koordinasi lintas sektor yang menghimpun pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan mitra pembangunan.

Integrasi

Hulu–Hilir yang Terhubung

Pengelolaan DAS terpadu di wilayah hulu disambungkan dengan pengelolaan pesisir terpadu di wilayah hilir.

Pembiayaan

Instrumen Pembiayaan Mandiri

Mengembangkan mekanisme pembiayaan untuk pengerukan alur, restorasi hulu, pengendalian sedimentasi, dan tata kelola forum.

Partisipasi

Komunitas sebagai Mitra Setara

Memobilisasi aset dan pengetahuan lokal serta mendorong pembayaran jasa lingkungan berbasis kinerja bagi penjaga daerah tangkapan air.

Hasil yang Dituju

Layanan air yang lebih siap menghadapi perubahan iklim.

Sumber Air Lebih Terlindungi

Daerah tangkapan air, kualitas sungai, dan ekosistem penyangga dikelola melalui prioritas yang sama.

Operasi Lebih Adaptif

Intake, IPA, energi, bahan kimia, reservoir, dan jaringan memiliki kesiapan menghadapi skenario cuaca ekstrem.

Pemulihan Layanan Lebih Cepat

Prioritas pelayanan, komunikasi publik, pasokan alternatif, dan tahapan pemulihan telah ditetapkan sebelum krisis terjadi.

Kolaborasi yang Terukur

Peran pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan mitra konservasi dihubungkan dengan indikator hasil.

Landasan

Berpijak pada data, kebijakan, dan preseden.

01

Tarya dkk. (2015)

Dalam naskah konsep awal disebut sebagai bukti ilmiah keterkaitan sedimen Sungai Berau dengan kondisi perairan pesisir Kepulauan Derawan.

02

RPSDA WS Berau–Kelai · PUPR (2021)

Dalam naskah konsep awal disebutkan area prioritas restorasi 4.430 ha dari total 88.219 ha lahan kritis di DAS Berau–Kelai.

03

Kepmen PUPR No. 426/2021

Dicantumkan sebagai landasan pembentukan TKPSDA Wilayah Sungai Berau–Kelai untuk koordinasi pengelolaan sumber daya air.

04

Perda Kalsel No. 18/2006

Dicantumkan sebagai preseden hukum dan operasional retribusi lalu lintas sungai di Sungai Barito, Kalimantan Selatan.

Angka, nomenklatur mitra, dan rujukan pada halaman ini mengikuti naskah konsep awal Ridge-to-Reef dan perlu diverifikasi kembali sebelum publikasi resmi.

Dibangun Bersama

Kolaborasi lintas sektor dari hulu hingga hilir.

Visi ke Depan

Dari Berau, untuk Indonesia.

Berau menaungi hutan hujan tropis di Jantung Borneo sekaligus pesisir terumbu karang Segitiga Karang. Program ini menempatkan Perumda sebagai penghubung kepentingan perlindungan sumber air baku, keandalan sistem air minum, dan pemulihan ekosistem hilir dalam satu kerangka tata kelola.

“Sungai-sungai Berau menghubungkan Jantung Borneo dengan Segitiga Karang—program ini menata kelola hubungan itu, dengan masyarakat sebagai pemilik sah masa depan tersebut.”